Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia Peduli Bangsa

WhatsApp Image 2016-07-24 at 2.37.30 PM

 

Liputan Mesir oleh Pratiwi Widya W.
Simposium Internasional PPI Dunia 2016 yang bertajuk “Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia” digelar di Kairo, Mesir pada tanggal 24 sampai dengan 29 Juli 2016. Acara ini dihadiri oleh lebih dari 70 delegasi perwakilan PPI Negara dan BEM. Beberapa acara yang termasuk dalam rangkaian Simposium Internasional ini antara lain diskusi interaktif oleh Menteri Agama, diskusi panel, sidang komisi, serta rapat tahunan.

Simposium yang merupakan rapat tahunan PPI Dunia membahas mengenai pilar-pilar penting bagi kemajuan Indonesia. Banyak sekali tokoh Indonesia dan para pakar yang turut menjadi pembicara sehingga pelajar Indonesia dapat menyampaikan pemikiran serta gagasannya. Tidak sampai di situ, di acara ini juga dibahas mengenai laporan pertanggungjawaban PPI Dunia 2015/2016 serta pemilihan Dewan Presidium baru PPI Dunia 2016/2017.


Pembukaan Simposium Internasional

Simposium Internasional ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama dan kemudian dilanjut dengan sambutan oleh Ketua Simposium Internasional PPI Dunia 2016, Presiden PPMI Mesir, Koordinator PPI Dunia 2015/2016, Duta Besar Mesir, Deputi Grand Syeikh Al Azhar, serta Menteri Agama Republik Indonesia.

WhatsApp Image 2016-07-24 at 2.38.17 PMDalam sambutannya, ketua simposium Imdad Azizy menjelaskan bahwa acara yang sudah dipersiapkan sejak enam bulan sebelumnya didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo. Presiden PPMI Mesir, Abdul Gofur Mahmudin berharap agar acara ini dapat memunculkan ide-ide untuk menyejahterakan bangsa Indonesia. Di samping itu, Steven Guntur yang merupakan Koordinator PPI Dunia dalam sambutannya memberikan paparan singkat mengenai PPI Dunia.

Duta Besar LBBP KBRI Cairo Helmy Fauzy menjelaskan bahwa simposium ini diadakan untuk masa depan bangsa Indonesia. Dr. Abbas Syauman, Deputi Grand Syeikh Al Azhar memberi respon yang positif karena semua hadirin yang datang termasuk mahasiswa yang menuntut ilmu dari berbagai macam cabang bertujuan untuk membangun bangsa Indonesia. Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin berharap bahwa ilmu yang dimiliki oleh seluruh mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai negara dapat digunakan untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik ke depannya.

Diskusi Interaktif, Politik, Pendidikan, Ekonomi, Media, dan Agama

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif oleh Menteri Agama dan diskusi panel yang membahas mengenai politik dan pendidikan. Lukman Hakim Saifuddin membahas mengenai berkurangnya rasa toleransi dan demoralisasi bangsa Indonesia yang terjadi pada generasi muda.

Pada panel diskusi pertama yang dibawakan oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H membahas mengenai identitas bangsa. Beliau sangat menyayangkan identitas bangsa yang mulai hilang karena adanya permasalahan ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, serta agama.

Pakar politik Yudi Lathief menjelaskan bahwa pancasila merupakan common value yang nilai pancasila tersebut lahir jauh sebelum jaman Soekarno sehingga setiap kebijakan harus turun dari pancasila. Selain itu, Jay Kristiadi yang merupakan pengamat politik juga menjelaskan bahwa mahasiswa yang berkuliah di luar negeri merupakan social society sehingga mereka memiliki peran yang sangat penting di masyarakat.

Kemudian dilanjutkan dengan panel diskusi ke dua yang membahas mengenai pendidikan. Dirjen Diktis Dr. Amtsal Bachtiar, MA menjelaskan bahwa ilmu teknologi, ekonomi, dan militer merupakan hal pokok untuk kemajuan bangsa. Muhammad Danial Nafis yang merupakan CEO Aktual Media Negeri menjelaskan bahwa media juga berperan penting dalam memperteguh identitas bangsa karena media dapat menciptakan pendidikan yang berkualitas dan berbudaya.

Panel diskusi selanjutnya diadakan di hari berikutnya yaitu pada tanggal 25 Juli 2016. Diskusi pada hari ke dua simposium ini diawali dengan membahas mengenai perekonomian Indonesia. H. Faisal Basri menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak seimbang dan terlambat sehingga probabilitas untuk menjadi negara maju sangat kecil.

_MG_0697.JPG

Sabeth Abilawa yang merupakan salah satu direktur Dompet Dhuafa menjelaskan bahwa sebanyak 46% rakyat Indonesia dikategorikan miskin karena pertumbuhan ekonomi tidak mensejahterakan yang miskin, akan tetapi lebih menguntungkan yang kaya. Kandidat doktor Universitas Cairo Mesir, Tubagus Mansur memaparkan bahwa sistem ekonomi yang pernah diterapkan yaitu sistem ekonomi sosialis dan sistem ekonomi kapitalis belum bisa memberikan solusi seperti kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Menurut Tubagus Mansur, sistem ekonomi yang bagus adalah sistem ekonomi syariah.

Kemudian dilanjutkan dengan panel diskusi ke dua yang dibawakan oleh tiga media partner. Akhyari Hananto, yang merupakan founder GoodNews menjelaskan bahwa kurangnya informasi yang positif dan benar mengenai Indonesia dapat mempengaruhi cara pemahaman warga mengenai Indonesia. Selain itu, Manajer Inspira Rizqi Akbar Syah menjelaskan bahwa menulis hal yang positif tidak hanya menambah nilai diri, tetapi juga dapat memotivasi orang lain. Melihat pentingnya media dalam menyebarkan informasi, Adrian Zakhary dari NET. menjelaskan bahwa digital media yang terdiri dari sosial media, online media, TV, dan VOD harus saling terintegrasi.

_MG_0628Panel diskusi terakhir membahas mengenai agama. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Yang merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal menunjukkan hasil survei pemetaan ideology masjid-masjid DKI serta survei radikalisme sosial-keagamaan. Selain itu Heru Prakosa memaparkan fenomena konflik antar pemeluk agama dan perpecahan warga atas agama di Indonesia. Terakhir, Muchlis Hanafi menjelaskan bahwa toleransi merupakan kekuatan agama serta membahas mengenai pengaruh media sosial yang membuat orang bisa menjadi radikal dan teroris dengan sendirinya.

Sidang Komisi

Sidang yang membahas mengenai politik, pendidikan, agama, dan ekonomi ini diadakan di hari ke tiga simposium. Para delegasi PPI Negara dan BEM disebar ke empat sidang komisi tersebut.

Hal yang diangkat di sidang komisi politik yaitu mengenai Papua, advokasi anti korupsi, dan kampanye demokrasi. Peserta sidang komisi politik akan mengadvokasikan ketahanan papua dan integrasi dengan pihak terkait mengenai isu Papua dengan harapan agar masyarakat Papua dapat menyatu. Program kerja mereka adalah membuat camp di Papua, serta meminta bantuan pihak terkait untuk memberitakan di forum internasional mengenai papua agar tidak dianggap merdeka.

Sedangkan peserta sidang komisi pendidikan membahas tiga hal, yaitu kesejahteraan guru dan pendidikan daerah terpencil, gerakan pembuatan perpustakaan keliling daerah terpencil, dan pemanfaatan media sebagai sistem informasi.

Pada sidang komisi agama, telah dibahas mengenai radikalisme agama. Program kerja peserta sidang ini adalah membentuk tim kajian radikalisme agama untuk memberikan usulan kepada pihak-pihak yang berpengaruh.

Sidang komisi ekonomi membahas mengenai petani Indonesia. Program kerja mereka adalah meningkatkan perekonomian masyarakat Indonesia di level grass root dengan memperkuat dan memperluas sistem informasi dari petani ke konsumen.

Pertanggungjawaban dan Presidium Baru

Hari terakhir Simposium Internasional PPI Dunia ini yaitu sidang pleno yang berlangsung selama 20 jam di KBRI Kairo. Sidang diawali dengan membahas AD ART yang kemudian dilanjutkan dengan memaparkan laporan pertanggungjawaban oleh Dewan Presidium PPI Dunia 2015/2016. Laporan ini dinyatakan diterima dengan bersyarat. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pembentukan Dewan Presidium Baru PPI Dunia 2016/2017. Berikut ini adalah susunan Dewan Presidium PPI Dunia 2016/2017.

Koordinator PPI Dunia 2016-2017: PPI Italia

Kawasan Asia-Oseania
Koordinator: PPI Tiongkok
Sekretaris: PPI Thailand

Kawasan Amerika-Eropa
Koordinator: PPI Turki
Sekretaris: PPI Belgia dan PPI Jerman

Kawasan Timur Tengah-Afrika
Koordinator: PPI Sudan
Sekretaris: HPMI Yordania

Terakhir, sidang ditutup dengan pemilihan tuan rumah Simposium Internasional PPI Dunia tahun 2017. Beberapa PPI Negara yang mengajukan diri sebagai tuan rumah mempresentasikan yang ditawarkan oleh negara masing-masing. Berdasarkan voting, PPI Inggris terpilih menjadi tuan rumah selanjutnya. Dengan ini berakhirnya rangkaian kegiatan utama Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, Mesir.

IMG_9441.JPG


One thought on “Simposium Internasional PPI Dunia 2016 di Kairo, Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia Peduli Bangsa

  1. ade Reply

    subhanallahhhh…mantabb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *