KRAKÓW : Kota Kecil dengan Kehangatan

Kalau ada yang lebih keras dari batu, itu aku. Memasuki usia 21 tahun aku makin gila dengan mimpiku. Padahal setelah metatah (upacara potong gigi umat Hindu di Bali) yang katanya dapat melunturkan Sad Ripu (6 musuh dalam diri manusia) aku begitu takut akan menjadi boneka cantik nan lugu dan polos yang hanya akan berdiam diri. Tapi setelah menerka-nerka, ternyata sifat keras kepala dan kenekatanku malah makin menjadi-jadi. Syukurnya karena sifat itulah aku berhasil terbang seorang diri dan menginjakan kaki di Eropa.

Ini memang bukan kali pertama aku ikut program exchange. Aku bisa dibilang haus akan sesuatu yang baru. Kadang kalau sudah libur bahkan aku sampai bosan karena tidak ada yang aku kerjakan. Mungkin ini bawaan dari kecil, sebab sejak kecil ada saja kegiatan yang aku ikuti. Hal ini membawaku mengikuti berbagai event dari yang biasa aja sampai bakalan nanya, “buat apa kamu ikut gituan, kayak ga ada kerjaan aja” (wkwkkwkw). Sampai akhirnya lewat Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) yang bekerja sama dengan AIESEC, aku dapat project di sebuah kota bernama Kraków. Banyak orang dari Kraków nanya, kenapa pilih Kraków? Kenapa Polandia ? yang ini jawabannya susah. Sama kayak milih pacar, ga ada alasan spesifik kan buat milih ? itu tergantung hati, kalau udah jodoh ya mau gimana (jangan baper). Maka kali ini aku akan menceritakan tentang Kraków.

Kesan pertama saat sampai di Kraków : dingin. Pas nyampe suhunya lagi -9°. Keluar dari pesawat langsung disambut angin yang kalo ini bukan semilir lagi saking dinginnya. Kaget sih, tapi sebenernya aku kebiasa sama dingin karena emang lahir didaerah pegunungan dan sering camping didaerah perbukitan dan pegunungan. Tapi ya ga sampe minuslah ya, paling menggigil 10° kali ya. Oke lanjut, bandara di Kraków kecil dan sepi karena memang bukan capital city. Pas aku nyampe udah agak gelap jadi ga terlalu fokus sama pemandangan sekitar, yang aku fokusin adalah : nyari tempat anget. Dari bandara ke kota butuh sekitar 30 menit dan dua kali ganti bus.

Pada Jumat, 20 Januari 2017 bersama buddyku : Kate, kami pergi ke mall paling besar di Kraków (dan kayaknya ini satu-satunya). Aku harus beli sim card dan juga kartu untuk transportasi. Nama mallnya Galeria Kraków dan mall ini panjang banget. Ada tiga lantai dan sialnya tiap lantai mirip banget. Alhasil tiap kesini aku rada bingung tempat yang aku tuju dilantai berapa dan pasti berakhir dengan mengelilingi keseluruhan gedung mall. Tapi mall ini sangat strategis karena dibelakang langsung ada stasiun kereta dan terminal bus. Dari dormku bisa kesini naik 501 dan turun di Politechnika. Nyebrang dua kali terus jalan dikit udah nyampe langsung dilantai 2. Walaupun aku orangnya ga suka ngemall tapi karena hiburan disini yang anget jarang ya aku jadinya sering ke mall. Bahkan minggu pertama aku hampir setiap hari ke mall bareng dua orang Excange Participant (EP) yang juga dari Indonesia.

Aku juga sempet ke Old Town abis dari Galeria bareng Kate. Dia juga ngajak masuk ke gereja yang jadi ikonnya Kraków. Didalemnya bagus banget, sayang ga bisa difoto. Ga banyak lampu, tapi ada banyak lilin disudut ruangan. Banyak patung dan ornamen sisa natal. Langit-langitnya menjulang tinggi, corak warna yang dominan adalah gelap meski dibeberapa tempat ada warna dengan nyala terang. Aku ga tau pasti nama gerejanya tapi yang aku dapet dari mbah google itu Saint Mary’s Basilica (KościÓł Mariacki). Kate sempet sembahyang disana sebelum kami berdua keluar. Lalu kami keliling lagi. Meskipun namanya Old Town tapi isinya ga yang lama-lama juga. Buktinya ada Zara, h&m, dan merk terkenal lainnya sepanjang jalan. Pohon natal yang ada ditengah-tengah Old Town masih berdiri kokoh dan menyala saat malam hari. Kata Kate lebih indah lagi waktu natal karena lampunya banyak dan berwarna-warni. Depan gereja ada bangunan yang aku ga tau lagi apa namanya. Didalamnya kayak ada pasar souvenir gitu. Karena kami kelaparan akhirnya kami makan disekitaran Old Town. Kate mengajakku makan pierogi, salah satu makanan khas Poland. Tampilannya kayang pangsit basah, tapi isinya bisa macam-macam. Aku pilih yang Rusian, jadi pakek kentang gitu. Tapi sumpah itu keasinan banget. Sebelum pierogi ada roti sama selai tapi aku ga tau pasti itu apa, yang penting enak aja hahaha. Ada juga timun yang udah keriput gitu. Kate bilang dia ga suka timun itu, aku rada takut nyobain tapi Kate bilang cobain aja sekarang mumpung ada. Pas aku cobain …. Kayaknya ini timun direndam pakai garam sekolam atau malah direndamnya dilaut (?) asinnya kebangetan. Sejak saat itu ga lagi-lagi deh aku mau makan tu timun. Belakangan aku tau kalau ternyata timun itu juga dijual disupermarket (oh no).

Sisi lain dari Kraków adalah Wawel Castle, kastil cantik dengan pemandangan sungai tepat dibelakangnya. Pertama kali kesana aku kira sungai itu danau. Aku kesana 2 hari setelah kedatanganku di Poland. Berbekal nekat jalan sendiri, aku akhirnya naik bis dan kemudian menepi disungai sambil nunggu temen yang aku ajak janjian. Ditepi-tepi sungai masih beku tapi sisanya sudah mencair. Ada banyak angsa dan bebek. Nah warga yang lagi main kesini pada bawa roti jadi angsa sama bebeknya pada ngumpul. Aku ga tau sepanjang apa sungai ini, yang pasti sungainya masih cantik jauh kalau dibandingkan sungai di Indonesia (ya iyalah).

Malam selalu lebih cepat pas winter, kadang aku males kemana-mana karena cepet banget gelap. Sekitar jam 4 langit udah mulai gelap walau sebenarnya suhunya tidak begitu berubah. Selama hampir 3 minggu aku di Kraków, suhu hanya berkisar antara -6° hingga 3°. Tapi walaupun minus, menurutku disini masih lebih hangat dibandingkan kota atau negara lain yang aku kunjungi. Budapest dengan -6°nya berhasil bikin aku dan temen-temenku menggigil bahkan salah satu temenku udah kaku ga bisa jalan. Vienna juga dengan -4°nya berhasil bikin hidung meler. Bahkan yang masih dalam satu negara : Warsaw dengan -3°nya berhasil bikin daguku kaku dan susah buat ngomong. Sejauh ini, Kraków masih yang paling ramah dengan suhunya.

Kata roommate ku dari Sri Lanka dia lebih suka Kraków dibandingkan Warsaw. Begitupun dengan kakak PPI Polandia yang sempat aku temui di Warsaw. Aku tidak bisa membandingkan yang mana lebih indah karena tiap tempat selalu punya keindahan sendiri dimataku. Untuk Kraków meski belum sepenuhnya aku jelajahi tapi aku suka. Kecil dan tidak gaduh, meski kadang orang-orang masih suka melototiku karena aku berbeda, ya aku cuek aja toh juga ketemu cuma sekali hahaha. Kraków punya kehangatan yang tidak bisa aku dapatkan ditempat lain dan yang pasti pengalaman tinggal di Kraków punya tempat tersendiri diperjalanan hidupku.

PPI POLANDIA GOES TO CIREBON, MEREALISASIKAN MIMPI DI POLANDIA

Pada 11 Desember 2016 lalu, PPI Polandia kembali mengibarkan panji-panjinya. Kali ini, kami mengunjungi Kota Udang, Cirebon sebagai destinasi promosi studi dan beasiswa Polandia. Kegiatan yang mengusung tema “Merealisasikan Mimpi di Polandia” ini merupakan inisiasi dari Sahabat Beasiswa (SB) Chapter Cirebon yang dikemas dalam acara KOPDAR.

Selama acara berlangsung, Warsono El Kiyat, sebagai delegasi dari PPI Polandia sekaligus pembicara dalam KOPDAR perdana tersebut, menceritakan pengalamannya selama studi di Polandia kepada peserta teman-teman mahasiswa Cirebon dan sekitarnya. Selain itu, sebagai penerima beasiswa Erasmus+ Uni Eropa, Warsono juga banyak menjelaskan tentang jenis beasiswa yang tersedia di sana serta memberikan tips dan trik untuk lolos beasiswa.

Dian Arianto, yang merupakan Ketua SB Cirebon sangat mengapresiasi kunjungi PPI Polandia di Kota Berintan tersebut, “Kami mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada delegasi atas sharing dan diskusinya,” ujar Dian.

Di akhir sesi diskusi, Warsono juga mengingatkan kepada peserta, untuk terus memotivasi diri sampai beasiswa tersebut bisa diraih, karena kepuasan dan kebangaan pada saat mendapatkan beasiswa adalah salah satu kebahagiaan terbesar bagi mahasiswa. (Red, warsono / Ed, pw)

Sharing “How to Write Your CV Correctly” oleh Warsono El Kiyat di Bogor

Sahabat Beasiswa Chapter Bogor mengadakan kopdar keempat bekerja sama dengan Alumni PPI Dunia, PPI Dunia, dan PPI Polandia, Minggu (20/11) di Kota Hujan, Bogor. Acara ini dihadiri oleh pengurus dan anggota SB Chapter Bogor serta anggota Scholarship Hunters Kota Bogor, seperti yang dilansir pada website Sahabat Beasiswa (http://sbchapterbogor.blogspot.co.id/).

Topik kopdar kali ini adalah “How to Write Your CV Correctly”  yang disampaikan oleh Kak Warsono El Kiyat, salah satu perwakilan PPI Polandia yang pernah menerima program pertukaran pelajar di Warsaw University, Polandia. Selain itu Kak Warsono juga pernah menerima program tesis di Hokkaido University, Jepang. Mahasiswa Pascasarjana IPB ini memulai presentasinya dengan menceritakan pentingnya CV dalam proses pendaftaran ke universitas di luar negeri dan seleksi beasiswa serta pengalamannya mengunjungi beberapa negara di Eropa. Secara umum ada beberapa faktor keberhasilan dalam proses seleksi beasiswa, yaitu: faktor yang bisa diprediksi seperti IPK, dan faktor yang tidak bisa diprediksi seperti surat motivasi, surat rekomendasi, dan CV (curriculum vitae). CV memegang peranan penting karena CV merupakan gambaran atau resume diri kita, khususnya dari segi akademis. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan CV agar lebih informatif, antara lain:

  1. Kenali informasi umum atau tujuan pembuatan CV! Apakah digunakan untuk melamar beasiswa program pertukaran, S2, S3, atau kegiatan internasional lainnya. Siapkan kerangka CV. Hal ini mempermudah kita dalam pembuatan CV, agar tetap dalam koridor atau overview yang diinginkan;
  2. Kerangka atau format CV dapat diperoleh dari penyelenggara beasiswa atau mencontoh beberapa format CV yang sudah terkenal, seperti Europass. Keunggulan format CV Europass adalah sangat fleksibel ketika kita merubah konten yang diinginkan, namun tetap berisi data yang lengkap. CV Europass merupakan kiblat CV beasiswa internasional, khususnya Erasmus, DAAD, dll.;
  3. Cantumkan pengalaman menulis atau publikasi ilmiah, pengalaman organisasi, pekerjaan, atau pengalaman sosial! Cantumkan personal skill yang dimiliki, seperti kemampuan bahasa dan keahlian spesifik!;
  4. Cantumkan penghargaan yang pernah diraih! Lampirkan point references perekomendasi kita dalam proses seleksi beasiswa atau pendaftaran ke universitas!;
  5. Sebaiknya pemberi rekomendasi adalah dosen pembimbing (dengan minimal gelar Doktor) di universitas asal, atau atasan kerja yang telah mengetahui kemampuan diri kita. Point references ini memegang peranan penting, karena menjadi suatu pertimbangan dalam penilaian CV.

Terdapat hal-hal yang perlu dihindari dalam pembuatan CV agar tidak berisi informasi yang berlebihan dan tetap dalam koridor format secara umum, antara lain:

  1. Desain terlalu ramai. Perlu diingat bahwa reviewer beasiswa memfokuskan pada isi CV, bukan tampilan CV dengan berbagai corak dan warna;
  2. Pencantuman informasi yang tidak sesuai dengan beasiswa yang dituju, seperti zodiak, hobi, dll. Namun bila ingin melamar beasiswa dengan jurusan yang sesuai dengan hobi, maka poin hobi tersebut bisa dicantumkan;
  3. Tidak mengikuti format CV yang disediakan penyelenggara beasiswa. Ada beberapa penyelenggara beasiswa yang mewajibkan para pelamar untuk mengikuti format CV yang telah diminta, namun beberapa program beasiswa lain tidak mewajibkan;
  4. Pemilihan font yang tidak sesuai. Sebaiknya jenis font yang digunakan dalam pembuatan CV adalah Arial dan Calibri;
  5. Tidak mencantumkan jenis kelamin. Hal ini merupakan poin yang cukup penting, karena beberapa penyelenggara beasiswa mempertimbangkan jumlah kuota tersendiri untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan;
  6. Jumlah halaman CV maksimal 2 lembar. Data yang dicantumkan dalam CV sebaiknya lengkap, ringkas, dan tidak berlebihan. Para reviewer beasiswa tidak memilki waktu yang banyak untuk membaca CV yang mempunyai terlalu banyak halaman;
  7. Informasi sesuai dengan realita. Data dalam CV tidak boleh dikarang atau dibuat-buat. Biasanya dalam proses seleksi wawancara, para reviewer beasiswa akan mengetahui bila ada data CV yang palsu atau dibuat-buat;
  8. Grammar atau spelling yang salah. Sebelum menyerahkan CV, sebaiknya kita meminta teman atau orang lain untuk mengoreksi CV kita agar tidak terjadi kesalahan pada grammar atau spelling.

Agar CV terlihat cantik dan menarik, kita perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya:

  1. Memperbaiki kemampuan bahasa formal maupun non formal terutama Bahasa Inggris;
  2. Meningkatkan nilai IPK, khusus bagi mereka yang masih berstatus mahasiswa. Masih ada kesempatan bagi kalian untuk meningkatkan IPK;
  3. Meningkatkan prestasi akademik di luar kelas. Contohnya aktif dalam kegiatan ilmiah, Program Kreativitas Mahasiswa, Karya Tulis Ilmiah, Exchange Program, dll.;
  4. Aktif dalam kegiatan organisasi. Hal ini akan melatih jiwa kepemimpinan, time management, dan banyak hal yang tidak dipelajari di bangku kuliah;
  5. Ikut dan aktif dalam kegiatan sosial seperti menjadi realawan. Hal ini bisa memperkaya wawasan dan cara berpikir kita.

Di akhir acara, Kak Warsono El Kiyat embagikan beberapa brosur Universitas di Polandia dari PPI Polandia, setelah itu dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan diskusi ringan. (Red, Eko / Ed, pw)

Lima Mahasiswa Indonesia Menarikan Tarian Indang Badinding dalam acara International Cultural Performance di Polandia

Wrocław, Polandia – Lima Mahasiswa Indonesia menarikan Tarian Indang Badinding di Gedung Strefa Kultury Politechnika Wrocławska, Polandia pada 16 desember 2016. Acara dimulai pada pukul 18:30 sampai 21:30 waktu setempat. International Cultural Performance merupakan acara tahunan yang diadakan oleh pihak universitas dengan tujuan memberi kesempatan kepada para mahasiswa internasional untuk memperkenalkankan budaya negaranya dalam bentuk nyanyian dan tarian. Acara ini selalu diadakan sebelum libur Natal dan tahun baru. Acara dihadiri oleh 55 mahasiswa internasional dari Indonesia, Vietnam, Ukraina, Palestina, Kolombia, Nigeria, Angola, Iran,  Irak, Rusia, dan Belarusia. Selain itu, acara juga dihadiri oleh rektor, wakil rektor bidang kemahasiswaan, perwakilan Biro Penerimaan Mahasiswa Baru, kepala Lembaga Bahasa Jerman, Rusia, dan Polandia, serta alumni Program Kursus Bahasa Polandia.


Bersama Bapak dr inż. Jacek Lamperski , Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Politechnika Wrocławska (nomor 6 dari kiri), Pengajar Bahasa Polandia (nomor 5 dan 7 dari kiri), serta mahasiswa dari Afrika

Dr Szałęga Dagmara, Pengajar Bahasa Polandia kagum dengan tarian ini. beliau mengataan, “Tarian Indang Badinding yang kalian tampilkan sangatlah menarik dan mengagumkan, saya pikir tarian ini sangat susah dan pasti membutuhkan  persiapan yang lama karena mempunyai banyak gerakan yang harus diingat. Kalian menarikannya dengan sangat baik tanpa ada kesalahan. Kalian juga mempunyai pakaian tradisional yang indah dan menarik”. Selain itu, Mubata, Mahasiswa asal Afrika mengatakan, “Saya suka gerakan tarian kalian karena unik, terutama gerakan ketika menempelkan telapak tangan antar penari (gerakan menempelkan tangan yang mirip Tari Saman) dengan kompak dan waktu singkat. Saya masih heran, bagaimana cara kalian melakukan gerakan itu?”, pikirnya.


Salah satu gerakan Tari Indang Badinding

Butuh waktu hampir  tiga minggu untuk mempersiapkan tari yang berasal dari Minangkabau, Sumatra Barat ini. Tarian ini ditampilkan dalam waktu kurang dari empat menit. Mereka mendapatkan pakaian tari dengan meminjam ke Kedutaan Besar Indonesia di Polandia. Mereka belajar secara otodidak dari video yang di unduh dari Youtube serta latihan setidaknya satu jam per hari dengan didampingi oleh mahasiswa S2 penari Tari Saman tahun lalu serta mahasiswa S3 dari Indonesia yang sedang belajar di Politechnika Wrocławska. Diakhir acara, para mahasiswa diberi kesempatan untuk mengabadikan momen dalam sesi foto serta makan bersama. (SE)

Kuliah Umum Studi di Eropa dan Polandia dengan Beasiswa oleh PPI Polandia di UNSOED

5 Desember 2016 lalu, bertempat di Ruang G Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sodirman, Purwokerto, telah dilaksanakan Kuliah Umum dengan tema “Studi di Eropa dan Polandia dengan Beasiswa.” Acara yang diinisiasi oleh PPI Polandia sebagai perwakilan dari PPI Dunia ini sukses diselenggarakan atas kerjasama dengan Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan UNSOED. Sekitar 30 mahasiswa baik dari internal fakultas maupun luar fakultas menghadiri Kuliah Umum yang diisi oleh Warsono El Kiyat sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Ibu Dr. Ervina Mela Dewi.

Warsono yang merupakan alumni beasiswa Erasmus+ International Mobility di Warsaw University of Life Science – SGGW, Polandia ini menegaskan bahwa Eropa adalah destinasi terfavorit bagi mahasiswa internasional termasuk Indonesia karena memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Selain terkenal dengan cara kerjanya yang lebih efisien dengan fasilitas pendidikan yang sangat memadai, Eropa telah banyak memikat mahasiswa asing untuk belajar di benua yang mendominasi total paten di dunia ini. Di samping itu, di setiap negara di Eropa memiliki skema beasiswa sendiri untuk mahasiswa luar negeri dengan persaingan yang sangat ketat untuk memperoleh beasiswa tersebut.

Warsono menambahkan, untuk mendapatkan beasiswa di Eropa, modal yang paling besar untuk bersaing dengan pelamar beasiswa lain adalah curriculum vitae. Oleh karena itu, Warsono merekomendasikan kepada para peserta Kuliah Umum untuk mempersiapkan CV-nya secantik mungkin. Caranya yaitu selama kuliah mengikuti berbagai kegiatan organisasi, aktivitas sosial dan perlombaan karya tulis ilmiah sebagai modal untuk berprestasi dan menjadi daya tarik sendiri bagi pemberi beasiswa untuk meloloskan aplikasi yang dikirimkan.

Ibu Dr. Nur Aini selaku Kaprodi Ilmu dan Teknologi UNSOED dalam sambutannya telah menghimbau kepada peserta untuk memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana untuk menggali informasi beasiswa  di Eropa. Selain itu, Nur Aini juga menambahkan bahwa capaian Warsono yang merupakan alumni dari ITP UNSOED ini dapat menjadi contoh bagi adik-adik kelasnya untuk berprestasi dan dapat mengharumkan nama institusi.

Acara ini berlangsung dengan lancar dan sangat interaktif serta komunikatif terutama pada saat sesi diskusi. Para peserta aktif bertanya dari hal yang sederhana tentang motivasi untuk studi lanjut hingga teknis mendaftar beasiswa yang dituju. Proses diskusi berjalan lebih hidup saat peserta penanya memberikan feedback dari jawaban-jawaban yang disampaikan oleh pembicara. Acara diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan dan foto bersama. (Red, war / Ed, pw)

Galeri Foto

PPI Polandia Kembali Mempromosikan Diri pada Festival Beasiswa di Universitas Negeri Jakarta

Bagi scholarships hunter, event-event berbau beasiswa adalah kegiatan yang paling dicari. Dengan meningkatnya minat mahasiswa untuk berkuliah ke luar negeri dan mendapat beasiswa, festival beasiswa akan selalui dinanti sebagai sarana untuk menggali informasi beasiswa itu sendiri. Dalam kesempatan ini, PPI Polandia yang merupakan organisasi para pelajar Indonesia di Polandia kembali berpartisipasi dalam kegiatan yang dinamai EDU FAIR, yang diselenggarakan atas kerja sama PPI Dunia dengan BEM FKIP Universitas Negeri Jakarta. Sebanyak 9 stan PPI dari berbagai negara yaitu HPMI Yordania, PPI Sudan, PPI Spanyol, PPI Portugal, PPMI Mesir, PPI Taiwan, PPI Tiongkok serta PPI Polandia dan beberapa instansi nasional sejenis seperti Sahabat Beasiswa Chapter Jakarta, Karya Salemba Empat, Euro Management, Uni Italia dan Euro Management telah sukses memotivasi para peserta yang datang dari JABODETABEK untuk melanjutkan studi di luar negeri.

Acara festival beasiswa yang bertajuk “Create Your Future Build the World” ini berjalan selama 2 hari (10 – 11 November 2016) yang dilengkapi dengan kegiatan Talkshow dengan mengusung topik “Kuliah di Luar Negeri dengan Beasiswa.” Dalam acara tersebut, panitia mendatangkan Koordinator PPI Dunia, Intan Irani yang menjelaskan mengapa harus kuliah di luar negeri; dan Warsono EL Kiyat yang merupakan salah satu pengurus PPI Polandia ikut mempresentasikan tentang studi di Eropa. Acara berlangsung sukses dan antusiasme peserta untuk menanyakan hal seputar studi di luar negeri dan beasiswa sangat tinggi. Terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh para paserta selama Talkshow berlangsung.

Acara ini adalah festival beasiswa ke-2 di tahun ini yang diikuti oleh PPI Polandia. Harapan kami, semakin banyak mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam kegiatan promosi kami tentang studi di Polandia, maka semakin banyak peluang bagi kami untuk mengajak mereka melanjutkan kuliahnya di negeri putih merah ini. (Red, war / Ed, pw)

Galeri Foto.

Laporan ICONIC 2016 di Jerman

Penulis: Muhammad Syukron, Politechnika Wrocławska.

 

  1. Sekilas tentang saya

47c8dc2e-d48b-4498-ab67-aef0b5960feaHai, nama saya Muhammad Syukron, biasa dipanggil Eko (nama pena) asal Pasuruan, Jawa Timur. Saya lulusan S1 Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang pada Mei 2016. Saya sedang menempuh studi Bahasa Polandia di Politechnika Wrocławska selama 1 tahun, dan tahun depan menempuh kuliyah s2 Computer Science di Politechnika Warszawska selama 2-3 tahun dengan Beasiswa Pemerintah Polandia, Ignacy Łukasiewicz 2016-2019. 2 tahun lalu saya juga studi Computer Science di Polandia tepatnya di Politechnika Lubelska, Lublin dengan Beasiswa Erasmus Mundus 2013/2014.

  1. Cerita singkat saya menjadi delegasi PPI Polandia

PPI (Perhimpunan/Persatuan Pelajar Indonesia) Jerman mengundang satu orang delegasi  PPI Polandia sebagai tamu VIP untuk menghadiri acara ICONIC . Undangan  tersebut di sebar di grup WA PPI Polandia. Sebelumnya, satu orang ditugaskan untuk mewakili PPI Polandia, namun beberapa hari kemudian yang bersangkutan berhalangan hadir, sehingga Mas Abdurrahman Niarman (Aab), ketua PPI Polandia menawarkan kepada anggota lain. Akhirnya saya menawarkan diri untuk menghadiri acara tersebut karena acara tersebut sangat berkaitan dengan bidang saya (Teknik Informatika), dan alhamdulillah saya ditunjuk. Di sisi lain, saya mempunyai project robot kapal selam tanpa awak yang masih saya kembangkan dan akan saya jadikan thesis S2 nantinya. FYI project robot kapal selam ini merupakan skripsi saya ketika s1 di Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam skripsi ini saya mendapatkan nilai A

  1. Event ICONIC 2016


ICONIC (International Conference of Indonesian Intellectual Community)
 adalah konferensi ilmiah 2 tahunan bertaraf internasional yang diadakan oleh PPI(Persatuan/Perhimpunan Pelajar Indonesia) Jeman. ICONIC tahun ini merupakan ICONIC ke-2 yang diadakan PPI  Jerman bekerjasama dengan PPI Hamburg yang mempertemukan para pelajar Indonesia di seluruh dunia. ICONIC tahun ini mengambil tema “Kebangkitan Industri Indonesia : Optimalisasi strategi dalam bisnis, pemerintahan, dan pendidikan”. Acara ini berlangsung pada 29-30 Oktober 2016 di TUHH Technische Universität Hamburg, Jerman.

0b3f8f4b-926e-4fcd-b8cb-1466e35d93a7Jumlah peserta hampir 250 orang, terdiri dari 60 mahasiswa Indonesia penulis makalah paper yang lolos seleksi, 50 undangan VIP, serta sisanya adalah observer. Makalah paper tersebut dipresentasikan dan didiskusikan bersama dengan harapan adanya kontribusi dalam pengembangan keilmuan dan pembangunan teknologi Indonesia. Konferensi ini menghadirkan beberapa pembicara, yaitu  Perwakilan Menteri Perindustrian Republik Indonesia, IrHasbi Assiddiq Syamsuddin, Ketua Dewan Riset Nasional, Dr. Bambang Setiadi, dan Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Faisal Basri.546639a7-9940-4bd8-97a7-b6b8255de3ca
Acara dibuka oleh Dr. Ing. Fauzi Bowo (Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman) serta dihadiri oleh B. J. Habibie (Presiden RI ke-3), Sylvia Arifin (Konsul Jenderal RI di Hamburg), Immanuel Hakiki (Presiden PPI Jerman), dan Ketua Panitia penyelenggara/Ketua PPI Hamburg, Ahmad Hafidz Irfandi. Acara ditutup pada hari ke dua dengan gala dinner pada jam 8 malam.

  1. Hal yang paling menarik dan berkesan

Pengalaman yang berkesan adalah saya bisa bertemu langsug dengan  Ilham Habibie, Putera pertama B. J. Habibie. Dalam pertemuan ini saya berkesempatan membicarakan projek robot kapal selam yang saya buat. Beliau menanyakan mulai dari sistem kerja robot kapal selam hingga kemampuan menyelam. Selain itu, beliau juga menanyakan studi saya di Polandia. Pembicaraan ini sangat berkesan bagi saya karena beliau sangat antusias menanyakan proyek robot saya.

Sedangkan pengalaman yang menarik bagi saya adalah bisa mendengarkan langsung pidato B. J. Habibie. Dalam pidatonya Habibie menekankan perlunya menanamkan budaya estafet yang terstruktur dalam jangka panjang. Budaya estafetlah yang membuat beberapa negara lebih unggul terutama dalam hal penguasaan teknologi.

Pengalaman menarik lainnya adalah ketika duduk satu meja makan VIP dengan para pemateri ICONIC dan undangan VIP. Di sini saya berkesempatan berdiskusi secara empat mata tentang perkembangan teknologi Indonesia di masa depan. Selain itu, saya bisa berkenalan dengan ketua pelaksana acara, Ketua PPI Jerman tahun lalu, dan beberapa anggota PPI Jerman yang lain dari negara bagian yang berbeda. Dengan pengalaman ini saya bisa memperluas link/networking baik dengan para ilmuan muda Indonesia maupun para pelajar untuk mendukung proses studi dan riset selanjutnya.

  1. Hal yang membanggakan dan harapan

Saya merasa bangga ikut ambil bagian dalam acara ini karena bisa berkontribusi langsung dengan menyumbang pikiran terhadap ide-ide kreatif para mahasiswa melalui paper yang mereka presentasikan. Saya berharap ide kreatif yang mereka presentasikan bisa diaplikasikan dengan cepat demi kemajuan inovasi teknologi untuk kepentingan bersama.

 

 

PPI Polandia Hadir di Festival Study Abroad Purwokerto, Indonesia

Penulis: Warsono El Kiyat, Staff Divisi Pendidikan PPI Polandia.

PPI Polandia yang merupakan bagian dari PPI Dunia turut serta dalam kegiatan festival studi lanjut yang dilaksanakan pada tanggal 8-9 Oktober 2016 lalu di Kota Satria, yaitu Purwokerto. Acara ini diadakan atas kerja sama BEM Universitas Jenderal Soedirman dengan PPI Dunia. Di acara yang mengusung tema “Reinforcing Brighter Future with Study Abroad” ini, PPI Polandia bersama dengan perwakilan dari 19 PPI Negara mempresentasikan informasi tentang studi lanjut di negaranya masing-masing. Selain itu terdapat juga booth/stan PPI untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang tata cara mendaftar kuliah di luar negeri serta bagaimana mendapatkan beasiswa untuk bisa belajar di sana.

whatsapp-image-2016-10-18-at-6-04-50-amKegiatan yang dihadiri oleh ratusan pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum ini sangat diminati pengunjung dan tampak antusias mengisi setiap booth yang tersedia. Termasuk booth PPI Polandia yang banyak dikunjungi mengingat tidak begitu banyak yang mengenali negara berlogo elang bermahkota dan berperisai ini. Peluang untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Polandia yaitu Ignacy Lukasiewicz sangat besar karena persyaratan yang tidak begitu sulit sehingga banyak dari pengunjung yang penasaran untuk menggali informasi terkait beasiswa tersebut. Selain itu, beasiswa Eramus Mundus dari Uni Eropa yang juga cukup banyak tersedia untuk studi lanjut di Polandia telah menambah semangat para pengunjung untuk mencari informasi di stan PPI Polandia.

whatsapp-image-2016-10-08-at-6-38-19-amInformasi terbaru dari PPI Dunia, kegiatan festival studi lanjut serupa seperti di Purwokerto ini juga akan diadakan di wilayah lain yaitu Malang, Bandung, Jakarta dan Kalimantan. Oleh karena itu PPI Polandia juga sangat apresiatif untuk turut serta dalam kegiatan tersebut untuk memperkenalkan Polandia sebagai salah satu destinasi studi lanjut yang tepat bagi mahasiswa Indonesia, sekaligus bisa memberikan motivasi kepada mereka agar bisa merasakan sistem pendidikan Eropa yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

whatsapp-image-2016-10-18-at-6-05-41-am

PPI Polandia’s Afternoon Talks with AIESEC Indonesia in Warsaw

After one and a half year of its re-establishment, PPI Polandia has shown its positive trends. Those trends are not only about the participation of PPI Polandia towards PPI Dunia or taking a stage in RRI Indonesia (the state radio network of Indonesiaactively, but it is also about the increasing number of its active membership. In this new academic year, the member of PPI Polandia has reached 40 students which are dominated by undergraduate students and followed by graduate students. Another positive trend that have made by PPI Polandia is the establishment of a memorandum of collaboration with AIESEC Indonesia in some projects; one of them is the AIESEC Indonesia Exchange Programme. Interestingly, this memorandum was formed during the 1st PPI Polandia’s Afternoon Talks, or so-called “Ketemuan Yuks!” on Sunday 24th of August 2016, where two representatives of AIESEC Indonesia also have poured their thoughts in this knowledge sharing session.

The Afternoon Talks began with a highlight movie of Rudi Habibie, and followed by the preamble of Vice-Chairwoman of AIESEC Indonesia regarding the Rudi Habibie’s movie and the Spirit of Indonesian Students. The discussion was getting more unputdownable since everyone wants to share their own perspectives about the meaning of leadership, academic knowledge and their ideals for Indonesia. For instance; the Head of Education Division of PPI Polandia 2016, Indera, revealed his academic knowledge on Material Engineering and the Habibie’s Theory. By the same token, the former president of PPI Polandia 2015, Teguh Ilham has spilt his thoughts out in respect to leadership and development of the nation. As he claimed  that “As long as we produces the benefit of cherishing others and being a truepenny! It has contributed to the development of our nation.” In sum, the knowledge sharing session has wrapped up with the collaboration’s agreement of PPI Polandia and AIESEC Indonesia as well as a photo session.

Miłego Dnia — Salam Perhimpunan!

Watch the video below to get the visual information! (Sorry, no English Subtitles) Stay tuned for more videos of PPI Polandia’s knowledge sharing.  

Upacara Bendera 17 Agustus 2016 di Warsawa, Polandia

Jauh dari tanah air, tidak akan membuat kami lupa akan Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 2016 kemarin, seluruh warga Indonesia di Polandia dan teman-teman PPI Polandia melaksanakan upacara bendera. Acara yang diadakan untuk memperingati HUT ke-71 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini diadakan oleh KBRI Warsawa di rumah duta.
Kami PPI Polandia sangat bangga karena tiga orang pelajar Indonesia yang berkuliah di Polandia berkesempatan menjadi pasukan pengibar bendera pusaka. Mereka adalah Evan Mulyana, Teguh Ilham, dan Raihan Lazuardi. Simak foto-foto upacara di youtube kami.

(Red, Evan, Ed, Pratiwi)